Pamit tepat waktu

Desember 21, 2007 at 12:00 am Tinggalkan komentar

Melihat penampilannya, orang akan menyangka bahwa ia itu jembel. Tetapi setelah mengenalnya dengan baik, barulah kita ketahui bahwa ia sesungguhnya berhati mulia. Kebiasaannya setiap hari adalah berjalan ke kantor pialang saham untuk mengunjungi teman-temannya dan mengamati perkembangan investasinya. Setiap siang sekitar pukul dua, Billy selalu membuat kami tersenyum menyambut kedatangannya begitu ia muncul di ambang pintu. Topi petnya selalu terpasang mencong, dan ia selalu memakai mantelnya yang sudah lusuh dan robek tidak peduli tinggi rendahnya suhu udara saat itu, dilengkapi dengan syal di musim dingin dan kemeja yang dikancingkan sampai leher di musim panas; Yang tidak pernah ketinggalan adalah senyumannya (yang memamerkan deretan gigi berantakan).
Dia adalah pemimpin tidak resmi kami, juru bicara kami. Jika Billy mengatakan sesuatu hal begini, maka begitulah halnya! Kami waktu itu adalah segelintir orang yang berkumpul setiap hari untuk memperhatikan catatan bursa saham dan menunggu kata-kata harian dari Billy. Dengan logat asli London serta kedipan matanya yang menenangkan seakan-akan membuat segala-galanhya beres tidak peduli bagaimana perkembangan pasar saham saat itu atau betapa suramnya keadaan dalam kehidupan sehari-hari. Tahu-tahu, pada suatu hari segala-galanya menjadi kacau. Billy sahabat kami yang berusai 80 tahun, pemimpin kami, terserang kanker!
Sejak itu tidak lagi merupakan hal yang penting bahwa perkembangan investasinya tidak diikuti. Urusan yang penting adalah Billy! Keadaannya mundur dengan sangat cepat. Satu-satunya keluarganya yang masih hidup adalah seorang kakak perempuan, di Inggris. Karenanya kamilah yang menjadi keluarganya. Beberapa orang di antara kami bergiliran menjaganya di rumah sakit. Garry, sahabat dan konsultan keuangan Billy hampir selalu ada di sana. Kami tidak ingin membiarkan Billy berbaring seorang diri.
Pada suatu malam kami menyadari bahwa ajalnya sudah dekat. Saya menawarkan diri untuk menemani Garry menjaga Billy, tetapi Garry menyuruh saya pulang dulu lalu menggantikannya menjaga keesokan harinya.
Sekitar pukul lima pagi saya dan istri saya terbangun mendengar pintu depan diketuk keras-keras. Saya bangun untuk melihat siapa yang datang, tetapi tenyata tidak ada siapa-siapa di luar. Pukul sembilan Garry menelepon untuk memberi tahu bahwa Billy telah meninggal dunia. “Pukul berapa?” tanya saya.
“Pukul lima pagi,” jawab Garry. Saya terpana. Hanya ada satu penjelasan bagi kami tentang siapa yang mengetuk pintu rumah kami pagi-pagi pukul lima. Itu adalah Billy yang pamit untuk terakhir kalinya.

Barry Spilchuk

Entry filed under: Chicken Soup. Tags: .

Berkorban untuk teman Resep serba guna

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

Desember 2007
S S R K J S M
    Jan »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Pos-pos Terbaru

A soup for Our Soul

My Chat’s


%d blogger menyukai ini: