Salah sambung???

Desember 21, 2007 at 12:07 am Tinggalkan komentar

Ibu saya meninggal dunia belum lama berselang setelah hampir setahun keadaan penyakitnya berubah-ubah terus. Kehidupannya hambar semenjak Ayah meninggal dunia. Tetapi tahun yang terakhir itu benar-benar berat baginya. Bagi ibu saya, Marge, hidup tidak ada artinya lagi tampa George, suaminya. Tidak ada kawan hidup, lawan untuk bertengkar, teman bercanda, tidak ada lagi yang ada untuk dicintai. Memang masih ada kami, tetapi baginya kehidupan tidak lagi seperti dulu, tanpa Ayah. Kami bisa memahaminya.
Di rumah sakit, tiba-tiba kondisi ibu sangat menurun. Saudara perempuan saya, Betsy, diberi tahu. Ia bergegas pergi dari tempat kerjanya langsung ke rumah sakit. Sebelumnya ia masih sempatburu-buru mengirimkan pesan kepada suaminya Andy, Andy berusaha menghubungi betsy di rumah. Tetapi karen di rumah tidak ada yang menerima, ia lantas menelepon lagsung ke rumah sakit. Andy tahu bahwa Ibu berbaring di lantai tujuh. Ia berusaha mengingat-ingat nomor kamarnya. 7226? 7626? 7662? Akhirnya ia menghubungi operator telepon di rumah sakit untuk minta dihubungkan. Dikatakannya bahwa ia ingin berbicara dengan Marge Mueth. Diejanya nama Ibu: “M-U-E-T-H.”
“Dia berbaring di kamar 3643,” kata operator itu. “Sebentar saya sambungkan.”
Andy tidak mengerti apa sebabnya ibu dipindahkan ke kamar lain. Andy mendengar kata seorang pria menjawab setelah operator menyambungkan. Andy bertambah bingung, karena tidak mengenali suara itu. Ia menarik kesimpulan bahwa operator tadi salah sambung. “Maaf.” katanya, “rupanya salah sambung. Saya hendak menghubungi keluarga Mueth.”
Pria itu menjawab, “Anda sudah benar. Ini George yang berbicara.” Andy kaget setengah mati. “Tidak, rasanya saya keliru disambungkan ke kamar lain. Saya mencari Marge Mueth.” Ketika menjawab, suara pria di seberang sambungan terdengar riang gembira. “Itu istri saya. Saya kemari untuk menjemputnya pulang.”
Andy meletakkan gagang telepon dengan terheran-heran. Ia menelepon operator sekali lagi dan minta  dihubungkan dengan Marge Mueth, di lantai tujuh. Operator menghubungkannya dengan kamar 7226. Betsy yang menjawab ketika telepon berdering di kamar Ibu.
Billy, anak saudara saya itu, menyimpulkan kejadian itu dengan kepolosan dan kearifan seorang anak: “Kakek datang kemari untuk menjemput Nenek pulang.” Betsy hanya bisa menangis dan bertanya pada diri sendiri, apa sebabnya begitu lama “Kakaek” baru datang.

Lin Hardick

Entry filed under: Chicken Soup. Tags: .

Resep serba guna Tidak ada yang bisa menghambat orang ini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

Desember 2007
S S R K J S M
    Jan »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Pos-pos Terbaru

A soup for Our Soul

My Chat’s


%d blogger menyukai ini: